Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan dia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan (harta) dia jadi kikir. KECUALI orang-orang yang melaksanakan shalat, mereka yang tetap setia melaksanakan shalatnya. Dan orang-orang yang dalam hartanya disimpan bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan yang tidak meminta. Dan orang-orang yang mempercayai hari pembalasan. Dan orang-orang yang takut terhadap azab Tuhannya.
Thursday, August 12, 2010
Q.S. Al-Ma'aarij ayat 19-27
Thursday, August 5, 2010
kemarin dan hari ini
Akhirnya travel berangkat, meninggalkan Bandung sekitar pukul 6. Perjalanan agak macet di sana-sini. Tol Cipularang yang lancar agak tersendat karena ada perbaikan jalan. Macet kembali menghadang ketika memasuki tol dalam kota Jakarta. Karena antrean masuk tol cukup panjang, sopir memutuskan mengambil jalan kiri dan tidak masuk tol dalam kota seperti biasanya kalau saya pakai travel yang sama ke Karawaci.
Dasar memang hari kerja, di luar tol juga macet. Akhirnya kami baru sampai di Karawaci jam 10 dan langsung menuju kantor tempat saya kerja praktek bulan Juni lalu. Karena banyaaak banget yang harus diurus dan sampe bingung, jujur, bingungnya karena harus nunggu lama sekali HR yang sedang meeting, akhirnya kami baru selesai membereskan urusan kerja praktek pukul 5 sore lebih.
Saya memeang berencana tidak langsung balik ke Bandung setelah selesai urusan di Tangerang. Saya mau pulang dulu ke rumah di Cikarang, Bekasi. Sepulang dari kantor, saya menunggu bus jurusan Cikarang-BSD-Tangerang. Aduh lamaaa banget nunggunya. Sampai senja turun dan azan berkumandang, saya masih menunggu bus di pinggir jalan. Ketar-ketir hati saya, takutnya sudah tidak ada bus jurusan itu yang lewat lagi. Pas hari mulai agak gelap, tapi untungnya belum gelap-gelap banget, bus merah besar itu lewat juga. Hhhaah, alhamdulillah. Saya pun dapat tempat yang agak di belakang karena sudah lumayan penuh. Tak apalah, yang penting masih di pinggir samping jendela, tempat yang saya sukai. Perjalanan cukup panjang, kalau tidak macet seharusnya kurang dari dua jam sudah bisa sampai rumah. Tetepi lagi-lagi karena macet akibat jalanan yang dipadati orang pulang kerja, saya baru sampai rumah sekitar pukul sepuluh malam.
Sampai rumah, saya langsung makan dan tidur. Keesokan harinya, hari ini, saya kan harus langsung balik lagi ke Bandung karena sudah ada janji dengan beberapa teman. Walaupun tidak terlalu lama di rumah, obrolan dengan papah tetap mengasyikkan. Papah sedikit bercerita tentang pengalamannya ikutan kelompok ngaji yang aneh di Tasikmalaya. Untungnya Papah cuma coba-coba dan liat-liat aja, karena menurutnya kelompok itu ngawur. Maklumlah orang sudah tua lagi pengen rajin-rajinnya ngaji.
Tadinya saya berencana berangkat pukul 9 pagi dari rumah, menuju ke Bandung lagi. Tapi bandan masih lemes jadinya saya sengaja menunda sampai jam 10. Lumayan tambahan istirahat sejam di rumah, bisa sambil makan dan nonton tv. Entah kenapa hari itu jam 10 siang masih macet. Cikarang memang daerah industri yang juga macet setiap pagi dan sore. Tapi pukul 10 sepertinya sudah tidak pagi. Ya sudahlah tak apa, toh saya juga tidak menyetir. Bus dengan jurusan Jabababeka-Bandung yang saya tumpangi selau tepat waktu kalau berangkat, pukul 10 saya berangkat dari Cikarang dan sampai Bandung pukul 12 lewat dikit.
Sampai di terminal Bandung, biasanya saya langsung naik bus damri Leuwipanjang-Dago atau turun di pintu tol sebelum terminal kemudian naik angkot Caringin-Dago. Saya memilih lanjut naik bus damri, karena walaupun jalannya kayak siput baru bangun tidur, setidaknya bus damri hanya satu kali ngetem di terminal dan jalur yang ditempuhnya lebih pendek tidak muter-muter ke sana ke mari seperti angkot. Dan saya juga males kalau naik angkot takutnya banyak ngetem jadinya saya capek pikiran dan hati karena menggerutu di dalam. Tapi ternyata bus damri yang saya naiki salah, saya terlalnjur terbawa bus Leuwipanjang-Cicaheum. Saya pun baru sadar salah naik bus ketika sampai di depan alun-alun Bandung. Bus yang ke arah dago biasanya tidak lewat sini. Saya masih ambil santai, "ah paling ambil jalur yang beda untuk ngehindarin macet", pikir saya. Tapi ternyata setelah saya pastikan dengan membaca tulisan terbailk yang ada di kaca belakang bus, saya benar-benar yakin kalu saya salah naik bus. Akhirnya saya turun di satu jalan yang labih timur daripada jalan Braga, kemudian jalan kaki ke tempat saya bisa naik angkot Cisitu-Tegal lega yang ke arah Cisitu. Yah akhirnya jalur yang saya lalui muter-muter juga meskipun naik damri karena angkot Cisitu ini jalurnya juga muter-muter. Dan angkot juga sempat beberapa kali ngetem. Akhirnya perjalanan dari terminal ke kosan mencapai satu setengah jam. Padahal bisanya cukup satu jam kurang, mungkin sekitar 45 menit. Hahahahah ya sudahlah karena salah naik bus damri, soalnya warnanya sama dan mereka berbari di jalur yang sama. Saya salah naik deh karena saya tadi langsung memilih naik bus yang paling depan. Hohohoh gapapalah pengalaman :D
Monday, August 2, 2010
warning
jangan pernah menunda sesuatu
Inimah sebenernya peringatan buat saya sendiri. Nyadar nyadar nyadar! Karena ditunda, jadinya tidak sesuai rencana!
Tuesday, July 20, 2010
Q.S. Ar-Rahman:13
Fabiayyiaalaairobbikumaatukadzdzibaan
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
Sunday, July 4, 2010
Ada Desa Terisolasi, Padahal di Kabupaten Bekasi!
Desa yang mo saya ceritain ini bisa dicapai dengan naik sepeda dari kompleks perumahan tempat saya tinggal. Saya tinggal di salah satu perumahan di Cikarang, Kabupaten Bekasi. Perumahan tempat saya tinggal ini adalah suatu kawasan industri yang cukup besar, ada kampus universitas internasional dan lapangan golf pula. Oleh karena itu saya cukup takjub karena ternyata di daerah yang ga jauh dari kawasan industri ini masih ada desa yang keadaannya berbeda 180 derajat. Hweeew, apalagi desa2 yang ada di papua sana. Ga kebayang.
Jadi gini ceritanya, tadi pagi saya niatnya keliling2 kompleks naek sepeda sekalian olahraga pagi. Tapi karna dari kecil saya udah sering keliling kompleks naik sepeda, bosen dong saya. Nah kebetulan karena perumahan tempat saya tinggal ini jaman daholo-nya adalah sawah (kata bapak saya) jadi ada pojok2 perumahan yang berbatasan dgn kampung2..
Dulu waktu kecil, saya ga berani masuk2 daerah kampung klo maen sepeda. Soalnya takut nyasar dan emang ga akan dikasih ijin sama orang tua. Nah sekarang kan saya udah gede,udah lebih berani dong. Hehe. Yaudah dengan sok tau saya masuk ke jalanan yang belom di aspal. Di setiap sudut-sudut perumahan selalu ada perbatasan dengan kampung. Jadi saya pikir saya pasti bisa nemu jalan tembus ke sudut perumahan yang lain tanpa harus balik ke jalan yang udah saya lewatin ketika masuk kampung untuk pulang ke perumahan lagi.
Saya ikutin aja jalananan tak beraspal, sampai nemu jalan aspal lagi tapi bukan jalanan perumahan. Jalanan tanpa aspal itu kanan-kirinya lapangan rumput luas yang ga diapa2in, alias ditumbuhin rumput liar. Nah di suatu pertigaan saya memilih jalan ke arah kanan yang saya perkirakan akan ada jalan tembus ke perumahan. Jalan aspal itu saya ikutin, terus sampe akhirnya jadi jalan tanah tak beraspal lagi. Tentunya lebar jalan yang saya laluin makin menyempit dan kadang melebar lagi. Ukurannya ga pasti, tapi yang jelas cuma bisa dilewatin sama 2 sepeda motor. Sebelah kiri kanan jalan itu rumah penduduk. Semakin banyak rumah di sisi-sisi jalan, jalannya makin menyempit. Akhirnya sampe ke jalanan yang cuma bisa dilewatin oleh 1 sepeda motor. Dan keliatannya, yg lewat situ emang jarang. Cuma orang-orang lewat aja sama ada motor sih saya liat diparkir di depan beberapa rumah warga. Tapi jarang banget sodar-sodara.
Saya ikutin jalan itu dan, taraaa saya sampai di ujung jalanan yang kiri-kanannya rumah penduduk, menuju ke jalanan yang kanan-kirinya sawah. Jalan itu menurun, jadinya saya dengan girang meluncur. Roda sepeda saya berputar cepat. Asik deh. Karena di sawah,jarak pandang jadi lebih jauh. Saya sudah bisa ngeliat perumahan di kejauhan. Tambah semangat saya mengayuh sepeda. Tapi ternyata ujung jalan yang saya tempuh ini, masuk ke kampung lain lagi. Alias rumah2 warga lagi. Dan, tantangan pertama adalah, di jalanan yg mo masuk ke kampung lain itu ada sapi yang sedang merumput. Ada banyak sapi yang merumput di tanah2 pinggir sawah. Satu ekor sapi berwarna coklat sedang asik makanin rumput di jalan setapak yang mau saya lewatin. Seperti yang udah saya sebutkan tadi, selebar-lebarnya jalanan itu, cuma bisa dilaluin 2 sepeda motor kayaknya. Masalahnya, sapi yang sedang asik makan rumput di jalan itu punya tanduk cukup kekar. Tanduk kanannya udah putus, tapi tanduk kirinya masih tajem agak melengkung gitu. Huuuw, sodara2, ngelewatin ayam aja saya takut dipatok, apalagi musti ngelawatin binatang besar bertanduk. Kalem-kalem aja sih dia tapi saya memang penakut, pemirsa. Saya udah sempet memutar sepeda, balik lagi pulang lewat jalan tempat saya masuk. Hmm, tapi karna ga mau pulang lewat jalan yang sama dan masih penasaran utk nemuin jalan tembus lain ke perumahan, saya menarik napas untuk lewat di samping sapi coklat itu. Saking ketakutannya, saya ngebayangin tiba2 sapi itu ngangkat kepalanya dan nyeruduk saya waktu saya lewat. Tapi ternyata, sapi itu kalem-kalem aja. Dia tetep santai makan rumput. Padahal saya udah baca2 doa dalam hati. Ah pokonya alhamdulillah saya udah berhasil lewat dgn selamat di samping sapi itu. Agak lebay ya rasa takut saya sebenernya.
Yodah akhirnya masuk deh ke kampung yang baru. Saya cari2 jalan yang mengarah ke perumahan. Jalanan di kampung ini lebih sempit lagi daripada kampung yang sebelumnya saya lewatin. Nah terus saya nemu jalan yang disemen di kampung itu. Tapi sekali lagi lebar jalan emang cuma cukup buat dilalui2 motor. Saya ikutin terus, jalan yang disemennya cuma dikit dan segera bersambung ke jalanan tanah lagi.eh nyampe lagi di ujung jalan yang nyambung ke jalan tengah sawah. Jalan itu mirip dengan jalan yg ada sapinya tadi, tapi itu jalan yang berbeda. Terus ada ibu-ibu lewat. Saya tanya, klo mo ke perumahan lewat mana. Jalan ke perumahan yang Ibu itu tunjukin adalah jalan masuk dari perumahan ke kampung yang tadi saya laluin. Tadinya saya mo nanya ada ga jalan lain, tapi karena Ibu itu kurang bisa berbahasa Indonesia dan saya ga bisa bahasa Sunda, saya lalu hanya mengucapkan terimakasih dan memutuskan memutar balik. Saya putuskan akan cari-cari jalan sendiri. Perumahan sudah kelihatan dari sawah tadi soalnya, harusnya sih ada jalan lain untuk ke perumahan selain jalan yang saya lewatin, begitu isi pikiran saya.
Saya ngulangin jalan yang udah saya lewatin dulu, terus nyobain jalan-jalan lain yang belum saya lewatin. Saya jadi merhatiin keadaan kampung. Got/selokannya kotor, dan kayanya ga dalem. Warna air di gotnya hitam, tinggi airnya cuma sedikit di bawah jalan. Saya sempat mikir mungkin kampung ini banjir klo hujan. Tapi karna di kampung ini masih banyak tanah yang ga diaspal, jadi mungkin kalo hujan ga banjir. Air hujan langsung meresap ke tanah dan ga ngumpul di got, jadi air di got ga meluap. Tapi tetep aja got di sepanjang kampung itu kotor, banyak sampahnya. Walopun ga menyebabkan banjir, got kotor yang mampet karena penuh sampah ga baik buat kesehatan warga. Pas lagi puter-puter cari jalan, ketemu bapak-bapak yang sedang duduk-duduk di warung. Salah satu bapak bertanya saya dari mana dan mo ke mana. Bapak ini bisa bahasa Indonesia. Saya jelasin saya lagi cari jalan keperumahan. Bapak itu nunjuk ke arah perumahan yang saya liat dari sawah tadi. "Itu udah perumahan" Kata Bapak itu. "Iya Pak, ada ga jalan ke situ?" tanya saya. Bapak itu lalu ngejelasin jalan yang sama, jalan yg saya laluin tadi. Udah capek sih saya sebenernya puter2 kampung itu. Capek juga klo harus cari jalan lain lagi. Tapi males bener ngebayangin lewatin sapi itu tadi. Klo ada jalan lain, mendingan lewat jalan lain. Saya tanya lagi ke bapak itu ada jalan lain ga, kata bapak itu ga ada jalan lain ke perumahan selalin jalan itu. Hufff... bener2 males bayangin sapi tadi. Hmm, ya udah saya pikir2 jalur lain. Masuk ke perumahan saya bisa lewat jalan raya Kalimalang, jalan raya di samping sebuah kali. Karena kampung itu berdempetan dengan perumahan, pasti ada jalan menuju jalan raya Kalimalang. Lagipula dari tadi saya puter-puter belum nemu jalan raya. Jadi ya mungkin aja jalan raya Kalimalang itu satu-satunya jalan raya terdekat yang bisa diakses.
Saya nanya ke Bapak tadi, klo mo ke Kalimalang lewat mana. Si Bapak menunjuk satu arah, katanya ikutin terus aja jalan itu, tapi lebih jauh katanya daripada ke jalan perumahan yg udah saya lewatin. Ya udah akhirnya saya memutuskan nyoba jalan yang ke kalimalang. Lewatin jalan dua tapak lagi, jalanan tanpa aspal. Nah di tengah jalan ketemu lagi tu sama sapi-sapi yang sedang makan pagi. Tapi kali ini yang melintang di tengah jalan adalah anak sapi. Warnanya putih, ga terlalu gede. Anak sapi itu badannya kurus. Ga terlalu menakutkan sih, tapi ga jauh dari jalanan, ada induk sapi yang sedang merumput juga. Kalo tu anak sapi sampe ketakutan gara-gara sepeda saya mo lewat dan anak sapi itu sampe ngadu ke ibunya, kan bisa terancam nasib saya. Yodah akhirnya saya tetep jalan pelan-pelan, berharap si ibu sapi ga bereaksi ketika sepeda saya terus jalan, klo tu anak sapi ga minggir bisa nabrak. Tapi untungnya si anak sapi ketakutan liat sepeda dan segera lari ke luar jalan, seperti yang saya sangat harapkan. Huufff, fiuuhh... Akhirnya lolos lagi dari keluarga sapi. Saya ikutin aja terus itu jalan, dan sempet nemu kawanan bebek yang lagi nyebrang jalan dua tapak yang saya lewatin itu. Beda sama sapi, bebek-bebek jalannya lebih cepet dan teratur. Di belakang bebek-bebek ada bapak pemilik bebek yang ngatur ke arah mana bebek-bebek harus berjalan. Dan perbedaan lainnya adalah, bebek-bebek jalannya selalu sambil ngobrol. Belom pernah liat kan, kawanan bebek jalan tanpa bersuara?
Saya lanjutin perjalanan, kiri-kanan jalan semakin sepi dari rumah penduduk. Rumput-rumput di pinggir jalan yang ada juga semakin tinggi. Ada tempat dimana saya ngeliat beberapa pemuda duduk-duduk di tanah kosong sambil ditemani beberapa motor yang nangkring. Mendingan pemuda-pemuda itu ngebersihin got aja daripada nongkrong pag-pagi di situ.
Saya ikutin terus jalan itu, dan semakin menyempit lagi. Dan ketemu turunan lagi dan harus ngelewatin tanah. Di ujung jalan yang samping kiri-kanannya sawah itu saya liat jalan menanjak dan saya harus ngelewatin kampung yang lain lagi. Aduuh ribet dan pusing sendiri saya ngebayangin harus ngelewatinnya. Saya kira diujung kampung ini udah langsung ketemu jalan raya. Ternyata emang masih bener-bener jauh, ga tau berapa kampung lagi yang harus saya lewatin untuk sampai ke jalan raya. Saya ngehayal, siapa tau nanti di sana saya ketemu sapi lebih banyak dan lebih nyeremin daripada anak sapi tadi. Bisa juga ketemu guguk. Misalnya masih ada 5 desa lagi yang harus saya lewatin, dan dari pengalaman masuk 1 desa aja ketemu 2 sapi yang lagi nyantai di tengah jalan, berarti ada kemungkinan saya bisa ketemu 10 sapi ditengah jalan dan artinya saya harus keringet dingin 10 kali. Ah ogah ah. Ya udah mendingan saya balik aja.
Ya udah akhirnya saya gagal nemuin jalan tembus lain, karena emang ga ada akses lain dari perumahan ke kampung itu selain jalan yang saya lewatin. Mungkin kampung yang kebetulan saya lewatin ini emang kampung yang jauh dari perumahan, dan jauh dari kampung-kampung lain yang nempel ke perumahan. Cuma ga kebayang, sebelum perumahan dibangun, warga kampung itu musti jauh banget perjalanan yang harus dilaluinya kalo mau ke jalan raya. Ke jalan raya Kalimalang, yang mau saya tuju tadi, bisa jadi adalah salah satu jalan raya terdekat yang bisa diakses. Dan untuk mencapai jalan raya terdekat itu musti ngelewatin beberapa kampung lagi. Kasian juga warganya. Mana jalanan di kampung itu mayoritas masih jalanan tanah. Bener-bener ga nyangka saya yang begitu masih ada di Kab. Bekasi.
Hehehe ga bermaksud apa-apa, cuma pengen sharing-sharing aja. Tapi seru juga sih pengalaman pagi itu :D
Sayang pas itu niatnya cuma olahraga pagi jadinya ga bawa kamera. Ga bisa berbagi gambar desa itu di sini.
Sunday, May 2, 2010
Kue dan Dermawan
Adi menghampiri sebuah toko makanan. Ia berdiri di depan kaca toko. Di balik kaca tersusun rapi beraneaka macam kue dengan bentuk yang menarik. Ia menelan ludah sedikit. Dilhatnya lekat-lekat, satu pesatu, kue-kue yang terpajang cantik di toko itu. Pandangannya jatuh ke sepotong kue berbentuk segitiga. Kue itu terdiri dari tiga lapis. Bagian bawah berwarna coklat, lapisan tengah merupakan selai ungu yang tebal, dan lapisan atas berwarna putih pucat. Ia menabak rasa potongan kue tersebut. “Hmm, coklat, blueberry, vanilla. Pasti lezat”, batinnya. Di bagian atas potongan kue terdapat lelehan coklat yang telah membeku, dihiasi dengan potongan stoberi dan anggur. Kemudian pandangannya tergeser ke sebuah papan kecil di samping kue, bertuliskan rupiah yang harus dikeluarkan untuk menyantap potongan kue tersebut. Rp 13.999,00. Adi mengingat-ingat apakah uang di dompetnya mencapai jumlah tersebut. Ia teringat tadi pagi, sebelum berangkat sekolah, kakaknya yang baru pulang dari Singapura memberikan selembar uang berwarna biru; lima puluh ribu rupiah. Dengan gembira Adi memasuki toko tersebut. Seorang wanita cantik penjaga toko tersenyum ramah padanya. “Mau beli apa dek?”, Tanya wanita itu sambil menatap ke mesin uang yang ada di hadapannya. “Yang itu, Mbak”, jawab Adi sambil menunjuk ke potongan kue coklat yang diincarnya. “Satu potong saja?”. Adi mengiyakan. “Baik, ditunggu ya. Kue ini memang resep terbaru yang didatangkan dari ItalLy, Anda tidak akan melupakan cita rasa kue yang lezat ini”, Kata wanita penjaga toko sambil terus tersenyum, tapi tidak menatap Adi. Yang ditatapnya hanya mesin uang dihadapannya. Kue itu kemudian dibungkuskan dengan sebuah plastic mika yang bentuknya mengikuti bentuk potongan kue, dan diletakkan tepat di depan kepala Adi yang tingginya hamper sama dengan meja kasir. Adi merogoh saku celana biru tua yang dipakainya. Anak yang baru masuk kelas satu SMP ini memang belum terbiasa membawa dompet. Pertama ia merogoh saku kanan celananya. Sang uang kertas berwarna biru tidak ada. Mesin uang berbunyi. Wanita penjaga toko telah mencatat dan menge-print tanda pembayaran untuk kue tersebut. Adi kemudian ganti merogoh saku kiri celananya. Tidak ada. Kedua tangannya lalu dimasukkan ke dua saku bekang celananya. Tidak ada juga. Kemudian ia mencoba melihat saku bajunya. Yang ada hanya dua lembar uang seribuan.
Adi mengingat-ingat dimana seharusnya uang lima puluh ribu itu berada. “ah!” Adi spontan berteriak. Ia ingat sekarang. Tadi pagi setelah menyimpan uang lima puluh ribu dari Akbar, kakaknya, Adi diajak berbicara oleh Bi Inah. Bi Inah yang melihat Adi diberi uang lima puluh ribu oleh Akbar bermaksud meminjam uang tersebut untuk membeli obat sakit kepala. Bi Inah memang beberapa hari yang lalu mengaku tidak bisa tidur karena sakit kepala. Bi Inah adalah pengasuh Adi sejak kecil, wajar saja bila Bi Inah lebih mudah bersikap terbuka kepada Adi daripada anggota keluarga lainnya. Adi merasa iba pada Bi Inah, kemudian memberikan uang lima puluh ribu tersebut kepada Bi Inah. Ia berkata dalam hati bahwa akan mengikhlaskan uang tersebut kepada Bi Inah dan tidak akan menganggapnya sebagai hutang. Akhirnya ia berangkat sekolah dengan uang saku lima ribu rupiah seperti biasanya. Di sekolah ia telah membeli minuman ringan seharga tiga ribu rupiah, dan kini hanya tersisa dua ribu.
Wanita cantik penjaga toko menatap Adi, menunggu Adi menyerahkan uang untuk membayar kue. Adi tidak tahu harus bicara apa. Kue telah dibungkus dan tanda pembayaran sudah dicetak. Ia melihat tulisan di samping mesin penghitung uang; BARANG YANG SUDAH DIBELI TIDAK BOLEH DIKEMBALIKAN. Adi kemudian tergagap-gagap menjelaskan kisahnya pagi tadi, hingga bagaimana ia bisa sampai lupa bahwa ia tidak membawa uang. Wanita cantik yang tadi tersenyum ramah kini berubah raut mukanya. Kedua alisnya bertaut, suaranya meninggi. Ia tidak mau mendengar penjelasan Adi dan terus saja menyerocos dengan omelannya. Adi yang bingung segera ambil langkah seribu, kabur dari toko kue itu.
Adi segera pulang ke rumah. Kakak dan ibunya sedang berbincang-bincang. Adi segera menuju kamarnya dan langsung tertidur pulas. Jantungnya masih berdebar-debar. Tapi lelah luar biasanya akibat kabur dari omelan nenek sihir cantik itu telah membuat matanya tak mampu terbuka. Ia harus beristirahat.
Pukul 7.00 malam Adi terbangun. Di ruang tamu terdengar berisik sekali. Setelah cuci muka, Adi berjalan gontai menuju asal suara. “Adi, ayo ke sini. Kakak kenalkan dengan seseorang”, Akbar memanggilnya dengan sumringah. Adi bergabung ke ruang tamu. Di situ dilihatnya ibu, ayah, Akbar, dan… nenek sihir cantik tadi sore! “Ini pacar Kakak, namanya Dewi.” Akbar mengenalkan. Adi dan wanita itu bertatapan sejenak. Di wajah wanita itu kembali tersungging senyum ramah. “Halo” kata wanita itu sambil mengulurkan tangannya. Adi membalasnya dengan ragu-ragu. “Kak Dewi ini baik sekali, loh, Dek. Ini dia bawain kue coklat enak, gratis. Coba kalau beli di toko, pasti mahal banget. Contoh Kak Dewi ini ya, jadi orang harus dermawan, nggak boleh pelit-pelit.” Kata ibu dengan bahagia. Ibu memang selalu mengajarkan kepada Adi tentang kedermawanan dan sangat menyukai orang yang dermawan. Adi mengedip-ngedipkan matanya, kemudian mengucak-ngucaknya. Ia ingin memastikan apakah wanita itu adalah wanita yang ia temui di toko kue tadi sore. Kemudian ia melihat kue yang terletak di meja tamu. Satu loyang kue yang diselimuti lelehan coklat, di atasnya ada potongan buah stroberi dan anggur. Adi segera memotong kue tersebut. Di dalamnya ada tiga lapis, persis seperti kue yang dilihatnya tadi sore. Ia benar-benar tidak mengerti dengan sikap wanita tersebut. Tadi sore ketika Adi tidak membawa uang untuk membayar kue, wanita ini memarahinya tanpa ampun. Kini tiba-tiba ia ada di ruang tamu rumahnya, duduk manis dengan senyum ramah, bahkan ibu telah menyebutnya dermawan karena telah dibawakan satu loyang kue. Adi segera mengambil sepotong, lalu memindahkannya ke piring kecil. “Ibu, kue ini sepotong harganya Rp 13.999,00. Mbak, kue tadi sore yang sudah terlanjur dibungkus dan dicetak tanda pembayarannya, nanti ditagih ke ibu saya saja ya uangnya.” Kata Adi sambil membawa potongan kue itu keluar dari ruang tamu, kemudian duduk santai di depan tv sambil menikmati kue.
>>tugas apsas juga ni.. ^o^Monday, April 12, 2010
Telepon Genggam
Pagi itu ia bangun lebih awal, pukul 04.00. Ia mengendap-ngendap ke kamar tidur kakaknya. Kakaknya itu baru pulang dari negeri tetangga, Singapura. Sebagai oleh-oleh bagi kekasihnya, sang kakak membeli telepon genggam yang baru akan mulai beredar di Indonesia bulan depan. Untuk apa ia mengendap-endap ke kamar sang kakak saat ayam pun belum berkokok? Ia memang bukan pencuri, tapi ia sangat tertarik pada tetepon genggam tersebut. Bukan untuk memilikinya, tetapi untuk dipamerkan pada teman-temannya. Jadi ia berpikir untuk meminjam sehari saja, dibawa ke sekolah kemudian mementaskan drama pencurian yang tragis. Tak pernah dibayangkannya, drama itu akan menjadi benar-benar tragis bagi dirinya.
Sebelum berangkat sekolah, ia mampir ke pangkalan ojek di sudut pengkolan gang rumahnya. Ia mengenal salah satu tukang ojek yang sudah menjadi langganannya. Dengan sedikit kompromi, mereka akan memainkan drama pencurian siang nanti ketika pulang sekolah. Sang tukang ojek akan menggunakan penutup muka, mengancam dengan sebuah pisau agar ia memberikan semua harta yang ada di tangannya kemudian kabur pergi.
Rencana dengan tukang ojek telah dibuat dengan rapi. Maka rencana yang selanjutnya adalah memamerkan telepon genggam tak ada duanya tersebut kepada teman-teman sekelas, tentu saja dengan tujuan utama menarik perhatian gadis cantik berambut panjang yang selama ini dipuja hatinya. Dijelaskannya kepada teman-temannya, harga beserta merek telepon genggam tersebut yang berani di jaminnya tidak akan ditemukan di Indonesia sebelum bulan depan. Dengan perasaan bangga, sepulang sekolah ia menggiring teman-temannya ke posisi perencanaan pencurian. Waktu yang ditentukan adalah pukul 15.00 tetapi sang aktor pencuri ternyata telah datang pada pukul 14.30. Tanpa rasa curiga, ia memberikan telepon genggam milik sang kakak kepada sang aktor pencuri dengan sedikit gertakan saja. Drama pencurian ini dilakukan agar teman-temannya tidak bertanya padanya mengenai telepon genggam tersebut yang tidak akan dibawanya lagi ke sekolah karena akan dikembalikan kepada kakaknya.
Setelah telepon genggam diserahkan kepada sang aktor pencuri, 30 menit kemudian datang lagi aktor pencuri dengan gaya yang sama yaitu dengan penutup muka, membawa sebilah pisau, dan mengendarai sepeda motor. Ia bingung bukan kepalang, dan kekhawatiran mulai merasuki pikirannya. Tanpa dipedulikannya raut bingung di wajah teman-temannya, ia memerintahkan sang aktor pencuri kedua untuk mengejar aktor pencuri pertama yang telah pergi dengan sepeda motor.
Rupanya ada tukang ojek lain ada yang mendengarkan percakapan mereka tadi pagi mengenai rencana drama pencurian. Entah sang pendengar ini sesama tukang ojek atau memang seseorang berprofesi maling yang memang kebetulan lewat. Hingga petang datang memayungi langit dan suara adzan maghrib terdengar, telepon genggam tersebut belum kembali ke tangannya. Harus mencari ke mana pun ia sudah tak tahu.
Dengan kepala tertunduk menatapi kakinya yang melangkah, ia berjalan gontai ke rumah. Langkahnya kecil-kecil, tak berani ia perbesar karena tak tahu apa yang harus ia katakana kepada kakaknya ketika sampai di rumah.
>> ini ni buat tugas apsas!! :D