Sunday, May 10, 2015

First Halal Bakery in Tokyo

Yesterday I was looking for a cafe to have a sit, read some books and take some notes. What popped up on my head were Starbucks and Saint Marc (Chococro) cafe, as many of you may do so. But a friend suggested me this bakery as an alternative, since we were planning to go somewhere not so far from the center of Tokyo.

Liaison is a Halal-certified bakery located at about 10 minutes (on foot) from Mita station, Tokyo. The shop open from 9 AM until 7 PM everyday, except Friday (day-off).
Here is the address:
〒108-0073 東京都港区三田4丁目1−9
http://goo.gl/maps/8aKkI

 

Actually it ain't a cafe like Starbucks nor Excelsior, but it was cozy enough for a Moslem to spend couple of hours there since it offers many choices of "edible" foods and drinks. It doesn't provide wifi, but electricity plugs are available. Unfortunately it doesn't have a praying space for the customers (anyway my friend said she's gonna give suggestion to the shop owner).
This halal bakery serves about 20 kinds of bread. So far, I've tried 4 kinds and none of them was disappointing. They were delicious! I strongly recommend you to try chicken-curry bread (kare-pan) and strawberry pastry.

 

Wednesday, May 6, 2015

Prayer Room for Moslem at Haneda and Incheon Airports

Last new-year holiday I flew out of Tokyo on Korean Air, headed to my homecountry. Departed from Haneda (Tokyo, Japan) and transited at Incheon airport (Incheon, South Korea). Here I am sharing some info regarding prayer room for Moslem provided by both airports. In Haneda airport, the prayer room was relatively easy to be found. It is located at the 3rd floor. If you go up using the elevator, as the door open you'll find an information desk. Then turn left, walk to the very corner. It is also clearly written on the homepage of Haneda Airport (http://www.haneda-airport.jp/inter/en/premises/service/others.html#pray) as the map is easy to understand.
The door of the prayer room is always locked. You should click on the intercom's button (hanged on the wall, right side of the door) and ask for permission to the officer to use the prayer room. They will always give you permission to use that room after you speak in the intercom either in English or Japanese.
You can take wudhu inside the room. Your compass or qibla director may not work inside the airport, but don't worry since the prayer room also provides wind-direction indicator at the corner of the roof. Let's keep the prayer room clean, do not eat or sleep inside :)
Move to the prayer room at Incheon Airport. Since the airport itself is very huge, it was quite difficult for me to find the prayer room. Well, it seems that there are several prayer rooms there (for many religions) so that one could not find Moslem's prayer room just by following information written on the homepage of Incheon Airport (http://www.airport.kr/iiacms/pageWork.iia?_scode=C2603030900). Even if you ask to some airport's officers, it may difficult for you to find since only few officers know where the Moslem's prayer room is and also very few of them noticed that the info on the web is different from the actual location. I realized this after looking around the airport and talked to several officers. Some of them didn't know and some of them gave me wrong info. Until finally I found the officer that showed me the exact location and told me that it's different from the location mentioned in the homepage. Honestly this is the reason I am writing this article. On the webpage, it's written that prayer room is located near to gate 29.
Actually, Moslem's prayer room at Incheon Airport is located near to gate 24 (duty-free area).
It is on the side that facing the windows (of the airport) and some chairs for departures waiting, not on the side that facing the main corridor. Find the following:
The room doesn't provide water faucet for taking wudhu. However you could find toilet not so far from the gate 24. As shown in figure bellow, the Qibla is drawn (by somebody else, not by me!) on the wall. In the case of that drawing has already been removed, hmmm let me try to remember. The arrow was drawn on the back side of the wall standing right in front of the door. So, the Qibla maybe 45 degree to the left from the door. But I really am not sure! Please figure it out by yourself, I am sorry.
However, I hope this article could help you to find Moslem's prayer room in these airports. Especially in Incheon Airport where the actual location of Moslem's prayer room is different from that is written on the homepage. Good luck!

Sunday, February 8, 2015

Mango

Sore tadi cukup dingin, saya bersama seorang teman satu Lab yang berasal dari Mongolia menikmati makanan hangat di kantin kampus. Kami mengobrol sana-sini, bercerita ke sana kemari. Berasal dari “alam” yang berbeda, saya dari tropical country dan sang teman ini dari negara yang saat musim dingin bisa mencapai -30 derajat Celcius di malam hari, kami bertukar cerita tentang hal-hal yang satu sama lain belum pernah jumpai. Ia meng-google kata “mango” di mesin pencari smart phone-nya, mengklik “images” lalu memperlihatkannya kepada saya. “Di negara kamu ada buah ini ya?”, katanya. “Emm!”, jawab saya mantap sambil mengangguk. “Udah pernah makan dong?” “Tentu dong. Nenek saya punya dua pohon mangga yang kalo lagi berbuah buannyakk banget.” “Saya baru pernah makan dried-mango, belum pernah makan yang masih segar seperti di gambar ini. Rasanya sama nggak?”, tanyanya sambil tersenyum. “Saya belum pernah makan dried-mango,” saya mencoba mengingat-ingat, dan tak bisa menemukan bagaimana rasanya dried-mango. “Nanti deh coba saya beli di sini terus saya ceritain ke kamu seberapa beda sama buah aslinya.” Mata kami kembali pada mangkuk dan makanan masing-masing, hingga kemudian saya mengangkat kepala dan menatapnya. “Seriusan, belum pernah makan mangga? Sekali-pun, nyobain, belum pernah?” Ia menggelengkan kepala. “Di negara saya cuma ada apel, jeruk, pisang, hemmm apa lagi yah..”, katanya sambil mencoba mengingat-ingat. “Gak mudah menanam buah di negara kami, kami mengimpor”, lanjutnya. Ia kembali menatap layar smart phone-nya, men-scroll ke bawah. Jemarinya berhenti saat matanya menangkap salah satu gambar yang kemudian diperlihatkan ke saya. Gambar mangga yang dipotong “bunga” kalau sebutan ibu saya. Mangga tanpa dikupas dipotong sejajar bijinya, kemudian dibuat garis-garis vertikal dan horizontal sehingga daging buahnya jadi kotak-kotak tapi tetap melekat pada kulit mangga dan setelah permukaan kulit mangga ditekan sedikit jadilah nampak seperti bunga yang mekar. Teman saya ini menatapnya, benar-benar menatapnya, sambil tersenyum. “Kamu udah pernah makan yang di-kayak-gini-in juga?”, tanyanya masih sambil tersenyum. “Iya. Waktu masih SD saya sering makan mangga digituin, hehe..”, jawab saya sambil heran dengan cara dia melihat gambar itu. Saya memperhatikan teman saya yang masih memandangi gambar itu, mencoba-coba menerka apa yang sedang ia pikirkan. Mungkin dia menyadari betapa lama ia memandangi gambar itu sehingga ketika akhirnya pandangan kami bertemu kembali, kami tersenyum dan melepas tawa. Ya, dia pengen nyobain makan mangga terutama yang dipotong bunga. Sangat pengen, kelihatannya. Sebagaimana saya pengen bertemu kangguru dan koala, mungkin makan buah mangga beneran bagi teman saya ini seperti mimpi. Sesuatu yang dia anggap mustahil akan pernah dialaminya. Seketika itu, saya benar-benar merasa seperti orang kaya. Seketika itu, saya baru menyadari betapa beruntungnya pernah merasakan makan mangga yang masih segar. Seketika itu saya baru sadar bahwa saya selama ini tidak pintar mengapresiasi salah satu kesempatan luar biasa yang Allah berikan; menikmati buah mangga.
فَبِاَيِّ اٰلَٓاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ
"Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan?"
(QS Ar-Rahman ayat 13, 16, 18, 21, 23, 25, 28, 30, 32, 34, 36, 38, 40, 42, 45, 47, 49, 51, 53, 55, 57, 59, 61, 63, 65, 67, 69, 71, 73, 75, dan 77)

Menghidupkan kembali

Yo! Sudah 2015 sekarang! Terakhir kali saya ngepost di blog ini akhir 2011. Akhir-akhir ini saya lebih sering mengutak-atik tumblr (asatyasifa.tumblr.com). Tapi karena beberapa alasan yang menyangkut tekad saya untuk bertanggung jawab atas nyawa, dipikir-pikir blogspot ini harus dimanfaatkan juga *yoih serius banget..tapi baiklah ini beneran kan* Berhubung detik tak berhenti berdetak, mari lanjutkan perjalanan! Let's back to the track \(^.^)/

Friday, December 23, 2011

Ketika masa hanyalah asa
Dan ketika penjaga langit belum menurunkan hujannya
Ya, hujan
Siapa yang tahu.

Adalah takdir
Yang memancarkan pesonanya
Semua berharap
Tak ada yang tahu

Aku bukan satu-satunya,
Bukan
Dan itu hiburan
Tawa tak datang

Dan apakah itu arogan
Katakan
Tak satu semutpun kan melawan
Buaian, serupa menjelma bualan

Friday, May 27, 2011

Di Atas Air

Tak bersuara
Bahkan anginpun tak terdengar.
Kenapa?
Karena di sini ada deras air yang terjun
deras,
tanpa bekas
Mengapa?
Karena di sini ada air,
di bawah sini.

Sampai kapan, sampai kapanpun
gelak tawa musang tak kan terdengar
bahkan tupai yang saling melempar batu.
Karena di sini, deras ini,
terjun begitu saja dari tempat yang tinggi.

Tahukah, seberapa tak bisa terlukisnya?
Karena ia tertulis di atas air
tak acuh permisi, datang dan mengalir.
Andaikan saja itu angin, akan ada bekas rusak
tapi hutan kan menampik.
Biar saja, tentu satu jejak tak bisa dihindari;
basah.
Biar saja, basah itu masih ada di sini
tapi bisa dibawa pergi.
Pasti kelak oleh matahari,
pasti dibuat menguap dan tak nampak.

Namun begitu,
oleh karena itu,
deru deras terjunnya
makin keras bergaung di sini.

Sunday, January 2, 2011

Puding Marmer

Bahan:
agar2 putih 1 bks
susu kental manis putih
susu kental manis coklat
telur 1 butir, dikocok
air minum

untuk fla:
susu kental manis putih
kuning telur 1 butir, kocok
maizena 1,5 sendok makan
air minum

Cara membuat:
membuat puding:
Susu kental manis putih, 1/2 bagian telur yang sudah dikocok, dan 1/2 bks agar2 dilarutkan dalam air minum secukupnya. Campuran kemudian dipanaskan hingga mendidih, setelah itu diangkat dan dituangkan ke dalam cetakan.
Susu kental manis coklat, 1/2 bagian telur yang sudah dikocok, dan 1/2 bks agar2 dilarutkan dalam air minum secukupnya. Campuran kemudian dipanaskan hingga mendidih, setelah itu diangkat dan dituangkan ke dalam cetakan yang telah berisi campuran berwarna putih.
Bentuk motif marmer dengan cara sedikit mengaduk adonan putih dengan coklat secara perlahan menggunakan garpu.
Setelah suhunya tidak terlalu panas, adonan dimasukkan ke dalam lemari es hingga mengeras.

membuat fla:
Maizena dilarutkan dalam air kemudian dicampurkan dengan kuning telur. Campuran ini dituangkan ke dalam panci yang sudah berisi susu kental manis putih yang dilarutkan dengan sedikit air minum, setelah itu dipanaskan hingga mendidih. Campuran akan mengental ketika mendidih, matikan api lalu dinginkan dalam suhu ruangan dan dimasukkan ke dalam lemari es.